Skip to content

Kuil Singosari Terpoler Di Asia Ternggara

Candi Singasari ialah candi Hindu – Buddha pesan bersejarah dari Kerajaan Singasari yang berlokasi di Kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indonesia, seputar 10 km dari Kota Malang. Candi ini adalah tempat pendharmaan bagi raja Singhasari terakhir, Kertanegara, yang memicing pada tahun 1292. Candi ini beruang pada kolong di sela Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuno pada ketinggian 512m di atas kualitas laut.

Cara penjadian Candi Singasari ini menentukan sistem menumpuk batu andesit hingga ketinggian tertentu setelah itu diteruskan dengan memperoleh dari atas baru turun ke bawah.

PENEMUAN
Candi Singasari ditemukan oleh Nicolaus Engelhard—seorang berkebangsaan Belanda yang menjabat Gubernur Pantai Timur Laut Jawa sejak 1801—pada 1803.[1][2] Misalnya Gubernur Pantai Timur Laut Jawa yang berstatus di Semarang, Engelhard bersentuhan dengan pimpinan keraton Surakarta dan Yogyakarta borong membesuk Candi Prambanan, Candi Kalasan, dan Candi Sari pada 1802. Ia lalu menciptakan bumi ke provinsi Malang, Jawa Timur di mana ia terkena reruntuhan bangunan yang dikenal seumpama Candi Singasari. Engelhard yakni orang Eropa pertama yang menuangkan beberapa variasi pada candi-candi yang dibangun di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Atas petunjuk Engelhard, arca-arca di Candi Singasari mulai dipindahkan pada 1804 dan diangkut ke Belanda pada 1819, ditujukan untuk raja Belanda atau museum.[1][2] Kaum arca menjadi koleksi museum-museum di Leiden, Belanda. Setengah masih dipindahkan ke tempat tinggal Engelhard di Semarang apabila koleksi pribadi.

Saat Hindia Belanda dikuasai Inggris (1811-1816), Thomas Stamford Raffles yang menjabat sekiranya Gubernur Jenderal Hindia Belanda menemui candi ini pada 1815. Raflles pun menyatakan kunjungannya ke Malang dan hubungannya dengan Engelhard di bukunya The History of Java (1817). Candi ini dinamakan beruang di tengah hutan jati yang baru dibabat pada tahun 1820.

Candi Singosari, Singosari, Malang, Jawa Timur.

Pembangunan candi
Menurut penyebutannya pada Kitab Negarakertagama pupuh 37:7 dan 38:3 serta Prasasti Gajah Mada bertanggal 1351 M yang terletak di halaman kompleks candi, candi ini ialah tempat “pendharmaan” bagi raja Singasari terakhir, Kertanegara, yang menemui ajal pada tahun 1292 akibat istananya diserbu tentara Gelanggelang yang dipimpin Jayakatwang. Kenyal Anggaran, candi ini tidak tamat habis dibangun.

Kapan tepatnya Candi Singasari didirikan sedang belum Didapati, sebaliknya sejumlah ahli zaman bahari mengevaluasi candi ini dibangun sejumlah tahun 1300 M. Untuk komentar J.L.A Brandes, H.L. Leydie Melville, dan J. Kneebel yang menghasilkan buku pada tahun 1909, candi ini dibangun atas keputusan Dewan Pertimbangan Agung (Battara Sapta Prabu) dan seruan Tribhuwana Wijayatunggadewi pada Mahapatih Gajah Mada. Pembentukan candi untuk memperingati wafatnya Kertanegara dan mahabrahmana, kepala agama Siwa-Buddha, dari Kerajaan Singasari pada 1292. Pembangunan candi diserahkan terhadap Patih Jinordhana. Dapat disimpulkan bahwa Candi Singasari yakni candi amanat Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Tribhuwana Wijayatunggadewi.

Setidaknya ada dua candi di Jawa Timur yang dibangun untuk mengakbarkan Raja Kertanegara, yakni Candi Jawi dan Candi Singasari. Layaknya halnya Candi Jawi, Candi Singasari serta ialah candi untuk meluhurkan Siwa. Hal ini kelihatan dari adanya beberapa arca Siwa di halaman candi. Candi ini dibangun dengan mempersatukan kompartemen agama Hindu (khususnya Siwa) dan Buddha yang sukses pada masa kerajaan Singasari dan Majapahit.

Struktur dan kegunaan
Komplek percandian menempati areal 200 m × 400 m dan terdiri dari beberapa candi. Candi yang serta dikenal dengan nama Candi Cungkup atau Candi Menara ini mencetuskan bahwa Candi Singasari yakni candi yang luhur pada masanya, setidaknya di bandingkan dengan candi lain di sekelilingnya. Namun, sekarang di kompleks ini melainkan Candi Singasari yang tinggal Tertinggal, sekalipun candi yang lain tidak didapati bekasnya.

Bangunan Candi Singasari terletak di tengah halaman. Bangunan candi utama dibuat dari batu andesit, menghadap ke barat, berdiri pada alas bujur sangkar bertakaran 14 m × 14 m dan tinggi candi yang saat ini tertinggal 14,1 m.[1] Tubuh candi berdiri di atas batur kaki setinggi sejumlah 1,5 m, tanpa hiasan atau ukiran pada kaki candi. Tangga naik ke selasar di kaki candi tidak diapit oleh pipi tangga dengan hiasan makara seperti yang terpendam pada candi-candi lain. Gerbang masuk ke area di tengah tubuh candi menghadap ke selatan, terletak pada sisi depan bilik penampil (bilik kecil yang menjorok ke depan). Pintu gerbang masuk ini visibel sederhana tanpa bingkai berhiaskan Tatahan. Di atas ambang gapura terpendam relief kepala Kala atau Kirti Murka. Cukilan ini diakui menghalau nyawa jahat yang dapat membawa Musibah. Lagi pula seluruh besar pahatan yang tersemat pada Candi Singasari bermuka bunga dan binatang. salah satunya yaitu pahatan raja hutan yang salik bertolak pandang.[5] Adanya beberapa ukiran dan ukiran yang sangat sederhana memanjatkan tebakan bahwa pembangunan Candi Singasari belum selengkapnya terselesaikan.

Di kiri dan kanan gapura bilik Gerbang, agak ke belakang, terselip relung tempat arca. Ambang relung pun tanpa bingkai dan hiasan kepala Kala. Relung sama pun tersedia di ke-3 sisi lain tubuh Candi Singasari. Takaran relung lebih besar, di lengkapi dengan bilik penampil dan di atas ambangnya tersedia hiasan kepala Kala yang sederhana. Di tengah tempat utama terpendam yoni yang cutel buruk zat atasnya. Pada kaki yoni serta tidak tersedia ukiran apapun.

Sepintas bangunan Candi Singasari tertampak seolah bertingkat dua karena komponen bawah atap candi bermuka persegi, menyamai tempat kecil dengan relung di Jalan berlawanan sisi. Kiranya relung-relung terkandung pun berbobot arca, sebaliknya saat ini keempatnya dalam peluang kosong. Di atas setiap ambang Gerbang relung terselip hiasan kepala Kala dengan tatahan yang lebih berat di bandingkan dengan yang ada di atas ambang gerbang masuk dan relung di tubuh candi. Tampuk atap tunggal bermuka meru Bertingkat, lebih ke atas sampai-sampai mengecil. Separuh punca atap visibel habis runtuh.

Di unsur dalam Candi Singasari terselip satu buah area yang diperlukan untuk menyusun satu buah arca Lingga dan Yoni. Lagi pula pada tiap sisinya terselip arca Ganesa di sebelah timur, arca Agastya di sisi selatan, dan arca Durga di sisi sebelah utara. Namun, yang tertinggal kecuali arca Agastya, malahan yang lain habis tidak ada.

 

joker123
sbobet
PG Slot